Kamis, 10 Mei 2012

PENGARUH MOVING CLASS TERHADAP MOTIVASI BELAJAR SISWA

PENGARUH PENERAPAN PEMBELAJARAN MOVING CLASS TERHADAP
MOTIVASI BELAJAR SISWA DI MADRASAH ALIYAH NEGERI 1
PEKANBARU

A.    Latar Belakang
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya peserta didik agar menjadi manusia yang beriman bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[1]
Belajar merupakan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi kepada siswa. Sebab, pada dasarnya belajar membutuhkan keterlibatan mental sekaligus tindakan. Pada saat aktif belajar, siswa melakukan sebagian besar pekerjaan belajar. Ia mempelajari gagasan-gagasan, memecahkan berbagai masalah dan menerapkan apa yang ia pelajari.[2] Belajar juga akan lebih efektif jika dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan dan kondusif.
Agar peserta didik bisa menikmati proses pembelajaran yang menyenangkan, dan mudah menyerap materi pelajaran serta merasa fresh dan enjoy dengan proses pembelajaran yang dilakukan, dibutuhkan suasana kelas yang sangat mendukung. Siswa memerlukan suasana, tempat, dan kondisi baru sehingga tidak jenuh. Disinilah pentingnya menerapkan pembelajaran dengan kelas yang berpindah-pindah (moving class), sesuai dengan pelajaran yang akan dilaluinya.
Moving class merupakan pembelajaran yang bercirikan siswa berpindah dari kelas yang satu ke kelas yang lain sesuai dengan jadwal pelajaran pada setiap pergantian jam pelajaran. Di dalam penerapan moving class terdapat unsur pengelolaan kelas yang dilakukan oleh masing-masing guru pelajaran guna memfasilitasi siswa terhadap mata pelajaran yang bersangkutan. Sehingga dimungkinkan ada pengaruh positif yang ditimbulkan oleh moving class terhadap motivasi belajar yang pada akhirnya juga akan berdampak pada prestasi belajar siswa.
Kegiatan pembelajaran moving class peserta didik berpindah sesuai pelajaran yang diikutinya. Saat peserta didik memasuki ruang kelas peserta didik akan dapat langsung memfokuskan diri pada pelajaran yang dipilihnya. Para peserta didik dapat memilih kelas yang ada sesuai jenis pelajaran yang sesuai dengan jadwal mereka. Sehingga para peserta didik terlatih untuk berpikir dewasa dengan memberikan pilihan-pilihan. Moving class bertujuan untuk membiasakan anak-anak agar merasa hidup dan nyaman dalam belajar. Selain itu agar mereka tidak jenuh dan bertanggung jawab terhadap apa yang dipelajarinya. Pembelajaran ini membuat peserta didik tidak bosan belajar dengan selalu menempati kelas yang sama setiap harinya. “Moving Class” berarti peserta didik mempunyai kesadaran untuk mendapatkan ilmu. Artinya, jika mereka mau mendapatkan ilmu, maka mereka harus bergerak ke kelas yang tertentu yang disediakan untuk dipilih.[3]
Moving class dapat disamakan dengan pembelajaran aktif, dimana segala bentuk pembelajarannya memungkinkan para siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran itu sendiri, baik dalam bentuk interaksi antarsiswa maupun antara siswa dengan pengajar. Pembelajaran ini sangat efektif dalam memberikan suasana pembelajaran yang interaktif, menarik dan menyenangkan, sehingga para siswa mampu menyerap ilmu dan pengetahuan baru, serta menggunakannya untuk kepentingan diri sendiri maupun lingkungannya.
Manfaat penerapan pembelajaran moving class ini, dimaksudkan agar memperoleh waktu belajar yang optimal, memupuk kedisiplinan peserta didik, dan kemandirian pada diri peserta didik, memastikan peserta didik berada pada lingkungan yang aman dari pengaruh-pengaruh buruk yang ada dilingkungan sekolah.[4]
Selain itu, dalam penerapan moving class ini, dibutuhkan juga lingkungan sekolah yang yang intensif dengan perawatan yang ditandai dengan adanya tanaman dimana-mana beserta pepohonan rindang. Lingkungan sekitar sekolah di tata dengan kelihatan hijau agar suasananya menjadi sejuk dan menyenangkan. Fasilitas belajar yang dalam keadaan layak pakai terawat dengan baik dan tersedia kelengkapan maupun bahan yang dibutuhkan oleh peserta didik. 
Seseorang akan berhasil dalam belajar, jika pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar. Keinginan atau dorongan untuk belajar ini disebut dengan Motivasi. Motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Motivasi adalah aspek yang sangat penting untuk membelajarkan siswa. Tanpa adanya motivasi, tidak mungkin siswa memiliki kemauan untuk belajar. Oleh karena itu, membangkitkan motivasi merupakan salah satu peran dan tugas guru dalam setiap proses pembelajaran. Motivasi dapat diartikan sebagai dorongan yang memungkinkan siswa untuk bertindak atau melakukan sesuatu. Dorongan itu hanya mungkin muncul dalam diri siswa manakala siswa merasa membutuhkan. Siswa yang merasa butuh akan bergerak dengan sendirinya untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh sebab itu dalam rangka membangkitkan motivasi, guru harus dapat menunjukkan pentingnya pengalaman dan materi belajar bagi kehidupan siswa, dengan demikian siswa akan belajar bukan hanya sekedar untuk memperoleh nilai atau pujian akan tetapi didorong oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhannya.[5]  Prof S. Nasution mengemukakan :
“To motivate a child to arrange condition so that the wants to do what he is capable doing ”. (Motivasi anak/peserta didik adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat dilakukannya).[6]

Dalam belajar sangat diperlukan adanya motivasi. Motivation is an essensial condition of learning. Hasil belajar akan menjadi optimal, jika ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Motivasi merupakan dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dorongan itu bisa berasal dari dalam atau luar. Semakin tinggi motivasi siswa untuk belajar, semakin tinggi pula proses dan hasil belajarnya.[7] Motivasi merupakan unsur penting dalam diri manusia yang berperan mewujudkan keberhasilan dalam usaha atau pekerjaan individu.[8]
Motivasi belajar dapat dilihat dari indikator-indikator seperti keantusiasan dalam belajar, minat atau perhatian pada pembelajaran, keterlibatan dalam kegiatan belajar, rasa ingin tahu pada isi pembelajaran, ketekunan dalam belajar, selalu berusaha mencoba, dan aktif mengatasi tantangan yang ada dalam pembelajaran.[9]
Motivasi merupakan intensitas dan arah suatu perilaku serta berkaitan dengan pilihan yang dibuat seseorang untuk mengerjakan atau menghindari suatu tugas serta menunjukkan tingkat usaha yang dilakukannya. Mengingat usaha merupakan indikator langsung dari motivasi belajar, maka secara operasional motivasi belajar ditentukan oleh indikator-indikator sebagai berikut :
a.       Tingkat perhatian siswa terhadap pembelajaran.
b.      Tingkat relevansi pembelajaran dengan kebutuhan siswa.
c.       Tingkat keyakinan siswa terhadap kemampuannya dalam mengerjakan tugas-tugas pembelajaran.
d.      Tingkat kepuasan siswa terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Pada intinya, motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan, dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar dengan baik.[10]
Berdasarkan pengamatan dan  informasi dari siswa dan guru di Madrasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru, ternyata dari pemaparan di atas tidak sepenuhnya sesuai dengan keadaan dilapangan. Karena masih ditemukan siswa yang kurang termotivasi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dikarenakan hal-hal berikut ini :
1.      Ada sebagian siswa yang beranggapan bahwa pembelajaran moving class hanya membuang-buang waktu saja. Karena harus berpindah dari satu kelas ke kelas yang lain.
2.       Ketika hari telah siang, sebagian siswa ada yang merasa malas untuk berpindah kelas.
3.      Jika tatanan bangunannya bertingkat, banyak siswa yang merasa capek naik turun tangga.
4.      Ketika tiba dilokal mata pelajaran selanjutnya, ditemukannya guru yang tidak disiplin/tidak tepat waktu sehingga mengakibatkan kekesalan bagi siswa.
5.      Kurangnya pengadaan sarana dan prasarana dalam menunjang pelaksanaan model pembelajaran moving class.
6.      Hasil belajar yang kurang memuaskan/tidak sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan oleh sekolah.
7.      Ada sebagian siswa yang lebih menyukai guru yang datang ke kelas dari pada siswa yang mendatangi guru.
8.      Ada sebagian siswa yang masih mengalami remedial.
Berdasarkan gejala-gejala diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan sebuah penelitian yang berjudul “Pengaruh Penerapan Pembelajaran Moving Class Terhadap Motivasi Belajar Siswa Di Madrasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru”.

B.     Penegasan Istilah
1.    Pengaruh
Pengaruh adalah kekuatan yang ada atau timbul dari sesuatu, seperti orang, benda yang turut membentuk waktu, kepercayaan atau perbuatan seseorang.[11]
2.      Pembelajaran
Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik.


3.    Moving class
Moving class adalah suatu model pembelajaran yang diciptakan untuk belajar aktif dan kreatif yang bercirikan peserta didik yang mendatangi guru dikelas, bukan sebaliknya.[12]
4.    Motivasi adalah penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan.[13]
5.    Belajar adalah aktivitas yang dilakukan oleh individu secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari apa ynag telah dipelajari dan sebagai hasil dari interaksinya dengan lingkungan sekitarnya.[14]
6.    Siswa adalah suatu organisme yang hidup, di dalam dirinya beraneka ragam kemungkinan dan potensi yang hidup yang sedang berkembang. Di dalamnya terdapat prinsif aktif, keinginan untuk berbuat dan bekerja sendiri.[15]

C.    Permasalahan
1.      Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka penulis dapat mengidentifikasikan  masalah sebagai berikut :
1.      Apakah ada pengaruh yang signifikan antara penerapan pembelajaran moving class dengan motivasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru.
2.      Apakah dalam pelaksanaan penerapan pembelajaran moving class dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa.
3.      Bagaimanakah tanggapan/respon siswa terhadap penerapan pembelajaran moving class.
4.      Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi motivasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru.
2.      Batasan Masalah
Mengingat banyaknya persoalan yang mengitari kajian ini seperti yang telah dikemukakan dalam identifikasi di atas, maka penulis memfouskan penelitian ini pada “Pengaruh Penerapan Pembelajaran Moving Class Terhadap Motivasi Belajar Siswa Di Madrasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru. Siswa yang diteliti juga dibatasi yakni hanya siswa-siswi kelas X Madrasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru.
3.      Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas, maka masalah yang akan dijawab melalui penelitian ini penulis dirumuskan sebagai berikut : Apakah ada pengaruh yang signifikan antara penerapan pembelajaran moving class terhadap motivasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri 1 pekanbaru.

D.    Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
a.       Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh yang signifikan antara penerapan pembelajaran moving class terhadap motivasi belajar siswa di Madrasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru.
b.      Kegunaan Penelitian
Hasil pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat anatara lain sebagai berikut :
1.      Bagi siswa
Penerapan pembelajaran moving class dapat menjadi pengalaman bagi siswa di Madrasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru.
2.      Bagi guru
Pembelajaran moving class dapat dijadikan sebagai salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di Madrasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru.
3.      Bagi sekolah
Pembelajaran moving class dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran di Madrasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru. 
4.      Bagi penulis
Untuk menambah wawasan penulis mengenai pengaruh penerapan pembelajaran moving class terhadap motivasi belajar siswa di Madarasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru.

E.     Metode Penelitian
1.      Waktu Dan Tempat Penelitian
            Waktu penelitian ini adalah setelah judul ini diterima setelah proposal penelitian. Adapun Tempat penelitian ini akan dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru.
2.      Subjek Dan Objek Penelitian
   Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X Madrasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru. Sedangkan Objek dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa dengan penerapan pembelajaran moving class.
3.      Sampel Dan Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri 1 Pekanbaru yang berjumlah 265 siswa. Sampel yang digunakan sebesar 25% atau 67 siswa. Adapun teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Proportionate Stratified Random Sampling.[16]
4.      Teknik Pengambilan Data
a.       Observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan jalan mengadakan pengamatan langsung melalui panca indera pada objek yang diteliti.
b.      Teknik Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.[17] Dalam hal ini siswa yang akan diberi angket.
c.       Dokumentasi digunakan untuk mendapatkan data tentang gambaran secara umum lokasi penelitian. Ditujukan kepada subjek yang diteliti, akan tetapi melalui catatan-catatan atau dokumen yang ada.
d.      Wawancara (interview) untuk memperoleh data dan informasi dari guru-guru  yang terkait dengan masalah penelitian.
5.      Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis pengaruh, maka data yang terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik korelasi. Oleh karena jenis data kedua data tersebut tidak sama, maka sebelum dianalisis data motivasi belajar yang bersifat ordinal itu terlebih dahulu diubah menjadi data interval. Untuk mengubah data ordinal menjadi data interval, rumusnya adalah :[18]
Ti = 50 + 10 )

Keterangan :
Xi = Variabel data Ordinal
X = Mean (Rata-rata)
SD = Standar Deviasi

                                    Setelah kedua data tersebut sama-sama berjenis interval, maka teknik korelasi yang digunakan  adalah koefisien product moment[19] dengan rumus :
  rxy =
Keterangan :
rxy = Korelasi Momen Tangkar
N = Cacah Subjek Uji Coba
 = Sigma atau Jumlah X (skor Butir)
2 = Sigma X kuadrat
= Sigma Y (Skor Faktor)
2 = Sigma Y Kuadrat
= Sigma Tangkar (Perkalian) X dengan Y
Setelah hasil koefisien korelasi rxy diperoleh, maka langkah selanjutnya adalah mencari rsquare atau koefisien Diterminasi (KD). Rumus mencari KD adalah :
KD = rxy2 x 100 %.
Hasil koefisien diterminasi inilah yang menunjukkan besarnya pengaruh variabel model pembelajaran moving class terhadap motivasi belajar fiqih siswa.
Untuk menganalisi data penulis menggunakan bantuan perangkat komputer melalui program SPSS (Statistical Program Society Science) versi 16.0 for windows.
















DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Rohani HM, Pengelolaan Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 2004.
Departemen Agama Republik Indonesia, Standar Kompetensi, Jakarta : Departemen Agama Republik Indonesia, 2004.

Hartono, Analisis Item Instrumen, Bandung : Nusa Media, 2010.
---------, Statistik untuk Penelitian, Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2008.
Jamal Ma’mur Asmani, 7 Tips Aplikasi PAKEM,  Jogyakarta : Diva Press, 2011.
--------------------------, Metodologi Praktis Penelitian Pendidikan, Jogjakarta : DIVA Press, 2011.
Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Jakarta : Bumi Aksara, 2009.
Moh. Sholeh Hamid, Metode Edutainment, Jogjakarta : Divapress, 2011.
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Jakarta : Bumi Aksara, 2011.
Rusman, Model-Model Pembelajaran : Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta : Rajawali Press, 2011.

Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : PT. Reaja Grafindo Persada, 2001.

Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, Bandung : Alfabeta, 2010.
Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru Dan Tenaga Kependidikan, Bandung : Alfabeta, 2009.
Wina Sanjaya, Perencanaan Dan Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta : Kencana, 2008.
----------------, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Putra Grafika.
Zalyana, Psikologi Pembelajaran Bahasa Arab, Pekanbaru : Al Mujtahadah Press, 2010.


[1] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta : Putra Grafika, 2006, h. 271.
[2] Moh. Sholeh Hamid, Metode Edutainment, Jogjakarta : DIVA Press, 2011. h. 48
[3] Syaiful Sagala, Kemampuan Profesional Guru Dan Tenaga Kependidikan, Bandung : Alfabeta, 2009. h. 185
[4] Syaiful Sagala,Op.,Cit, h. 184
[5] Wina Sanjaya, Op,Cit., h. 133
[6] Ahmad Rohani HM, Penegelolaan Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta, 2004, h. 11
[7] Jamal Ma’mur Asmani, 7 Tips Aplikasi PAKEM,  Jogyakarta : Diva Press, 2011, h. 150-151
[8] Rusman, Model-Model Pembelajaran : Mengembangkan Profesionalisme Guru, Jakarta : Rajawali Press, 2011. H. 94
[9] Made Wena, Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer, Jakarta : Bumi Aksara, 2009, h. 33
[10] Jamal Ma’mur Asmani, Op.,Cit, h. 175-176
[11] Wina Sanjaya, Perencanaan Dan Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta : Kencana, 2008. h. 186.
[12] Syaiful Sagala, Op,Cit., h. 183
[13] Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : PT. Reaja Grafindo Persada, 2001, h. 73
[14] Zalyana, Psikologi Pembelajaran Bahasa Arab, Pekanbaru : Al Mujtahadah Press, 2010, h. 19
[15]  Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, Jakarta : Bumi Aksara, 2011. h. 170
[16] Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, Bandung : Alfabeta, 2010. h. 93
[17] Jamal Ma’mur Asmani, Metodologi Praktis Penelitian Pendidikan, Jogjakarta : DIVA Press, 2011. h.123.
[18] Hartono, Analisis Item Instrumen, Bandung : Nusa Media, 2010. h. 124.
[19] Hartono, Statistik untuk Penelitian, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008, h. 84

1 Komentar:

Pada 3 Maret 2019 pukul 19.52 , Blogger Blo mengatakan...

terimakasih banyak min sangat membantu, mohon ijin copy untuk keperluan tugas

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda